BAHASA, SASTRA, DAN TEKNOLOGI INFORMASI: MENYIKAPI ANCAMAN, MENJAJAKI PELUANG

MPBSI Bahasa sastra dan teknologi Info terlihat sebagai entitas yang setara atau barangkali kami mampu menyebut bahwa ketiganya punya karakter yang sejajar. Tampak tidak ada hal yang istimewa berasal dari ketiganya.

Salah satu diantara ketiganya tidak ada yang serta merta muncul superior –berperan sebagai faktor determinan bagi (keberadaan) faktor-faktor yang lain. Melalui pengamatan yang
bebas nilai, bahasa, sastra, dan teknologi Info akan lebih kerap dipahami sebagai sebuah realita yang sebetulnya sudah seharusnya “begitu” (given), seperti lazimnya bernafas dan berjalan.

Kesimpulan kami pada bahasa, sastra, dan teknologi Info yang
dikontruksi melalui cara pandang yang bebas nilai mampu bersama dengan ringan musnah
seketika saja.

Kita memahami bahwa pada saat ini teknologi Info secara
agresif (sekaligus massif) sudah menyentuh semua faktor kehidupan manusia. Hampir tidak ada area di didalam kehidupan manusia yang tersisa tanpa sentuhan teknologi informasi. Dengan segala product yang diturunankannya, teknologi informasi sudah memanjakan manusia di semua dunia bersama dengan berbagai
kemudahan, kepraktisan, dan keekonomisan yang konon belum pernah didapatkan dan dirasakan oleh manusia di zaman sebelumnya. Tanpa disadari, keterikatan manusia pada teknologi Info sudah merubah cara manusia menjalani dan menyikapi kehidupan sehari-hari. Teknologi Info yang jadi melekat Bagi masyarakat Indonesia, bahasa Indonesia dipercayai sebagai sebuah, simbol kebangsaan yang punya daya magis ampuh untuk merekat sekat-sekat
kebinekaan yang terlihat memahami menganga menghiasi narasi keindonesiaan. Di
tengah banyaknya ciri kebinekaan yang melekat sebagai identitas kedaerahan
rakyat Indonesia, konon cuma di bawah bendera dan bahasalah, kita, rakyat
Indonesia, mampu merasakan persatuan didalam satu kesamaan yang tak bisa
dibantah. Bagi rakyat Indonesia, bahasa Indonesia bukanlah sekadar alat
komunikasi yang berguna sebagai instrumen pergaulan, melainkan termasuk identitas
kebangsaan yang melambangkan kebesaran jati diri keindonesiaan (lihat
Anderson, 1990; Errington, 1992). Oleh sebab itu, narasi untuk menjayakan
bahasa dan sastra Indonesia bukanlah sebuah cerita yang didorong oleh sikap
untuk mengedepankan rasa romantisme keindonesiaan. Menjayakan bahasa dan
sastra Indonesia adalah cita-cita luhur yang merefleksikan kesadaran rakyat
Indonesia sebagai bangsa yang besar, beradab, dan berkebudayaan luhur.

Secara linguistik, sebuah bahasa dikatakan berjaya bila bahasa tersebut
digunakan oleh penutur didalam kuantitas yang banyak. Bahasa Inggris dikatakan
sebagai bahasa yang paling berjaya secara linguistik sebab kuantitas penuturnya
yang paling banyak. Kejayaan bahasa Inggris tidak ditentukan oleh banyaknya
ragam yang dimiliki bahasa Inggris dan termasuk banyaknya kuantitas kosa kata di
dalam kamus bahasa Inggris. Kejayaan bahasa Inggris, sekali lagi, karena
ditentukan oleh vitalitas bahasa selanjutnya untuk digunakan sebagai bahasa ilmu
pengetahuan, bahasa kebudayaan, bahasa keagamaan, bahasa politik, bahasa
pemerintahan, dan banyak ulang bidang keperluan atau minat manusia di dunia
yang mampu dipenuhi oleh bahasa Inggris. Karena vitalitasnya itulah bahasa Inggris
digunakan oleh banyak penutur di dunia (lihat Gunarwan, 1998; Alwasilah, 2008).
Sementara itu, tentang bersama dengan ukuran untuk menyaksikan kejayaan sastra
Indonesia barangkali sebetulnya akan lebih susah dilakukan dibandingkan dengan
upaya untuk menentukan tingkat kejayaan bahasa Indonesia. Namun, gagasan
yang dikemukakan Bourdieu (1993) yang tunjukkan bahwa sebaik-baiknya
fungsi sastra adalah sastra yang bersama dengan segala aspeknya mampu berperan sebagai
alat penyampai nilai-nilai ilmu ilmu dan alat transformator nilai-nilai
kedewasaan yang berlaku di masyarakat, perlu untuk dipertimbangkan. Dalam hal
ini, sastra tidak mampu dipersepsi secara sempit sebagai alat hiburan, ilmu
pengetahuan, dan/atau dokumentasi kebudayaan belaka. Lebih berasal dari itu, sastra
dengan segala aspeknya punya andil secara aksiologis didalam pembangunan
manusia Indonesia yang bineka. Dalam konteks Indonesia, sastra yang berjaya
dapat termasuk diukur bersama dengan kemampuannya mentransformasikan warna lokal
kedaerahan yang mampu mengilhami terjadinya transformasi nilai-nilai yang
berlaku secara universal.

MENYIKAPI ANCAMAN, MENJAJAKI PELUANG KASUS INDONESIA

Perkembangan teknologi Info seperti yang terjadi sekarang ini telah
diprediksi akan terjadi jauh hari pada mulanya bersama dengan sebutan globalization village (lihat McLuhan, 1962; Toffler, 1970). Terkait bersama dengan perkembangan ini, Schwab
(2017) menyatakan bahwa teknologi Info yang menjelma didalam wujud
super computer dan teknologi nano merupakan ciri utama sebuah fase yang disebut bersama dengan fase revolusi industri 4.0 (4IR).
Perkembangan teknologi Info melahirkan terdapatnya realitas yang dapat
dimaknai sebagai kesempatan sekaligus ancaman bagi bahasa dan sastra Indonesia.
Dalam konteks ini, usaha untuk menjayakan bahasa dan sastra Indonesia dalam
perspektif manajerial perlu ditempuh bersama dengan skema yang mampu menjadi bersifat
konsolidasi dan apalagi mampu termasuk berupa ekspansi. Artinya, diperlukan strategi
untuk mengonversi kesempatan menjadi kemampuan dan menangkal ancaman menjadi
kelemahan yang mematikan

Perkembangan teknologi Info seperti yang terjadi sekarang ini telah
diprediksi akan terjadi jauh hari pada mulanya bersama dengan sebutan globalization village
(lihat McLuhan, 1962; Toffler, 1970). Terkait bersama dengan perkembangan ini, Schwab
(2017) menyatakan bahwa teknologi Info yang menjelma didalam wujud
super computer dan teknologi nano merupakan ciri utama sebuah fase yang
disebut bersama dengan fase revolusi industri 4.0 (4IR).
Perkembangan teknologi Info melahirkan terdapatnya realitas yang dapat
dimaknai sebagai kesempatan sekaligus ancaman bagi bahasa dan sastra Indonesia.
Dalam konteks ini, usaha untuk menjayakan bahasa dan sastra Indonesia dalam
perspektif manajerial perlu ditempuh bersama dengan skema yang mampu menjadi bersifat
konsolidasi dan apalagi mampu termasuk berupa ekspansi. Artinya, diperlukan strategi
untuk mengonversi kesempatan menjadi kemampuan dan menangkal ancaman menjadi kelemahan yang mematikan .