Drone Canggih Buatan Tim Dirgantara Project

TIM Dirgantara Project berisi para mahasiswa teknik dirgantara Institut Teknologi Bandung merancang wahana nirawak atau drone dengan desain unik. Mengusung konsep modular drone, mereka membuat wahana terbang dengan empat lengan yang dilengkapi baling-baling itu bisa dibongkar-pasang.

Tim yang beranggotakan Rizki Duatmaja, Damardayu A.H., Muhammad Nur Badruddin, Arifian Sandovic, dan Rizqy Agung itu juga membuat pesawat terbang tak berawak alias unmanned aerial vehicle (UAV) mini berbentuk seperti capung yang melengkapi kinerja drone. Dibantu dosen pembimbing Mochammad Agoes Moelyadi, tim menyiapkan wahana nirawak sejak akhir 2018. Mereka menggunakan material akrilik sebagai penutup atas dan bawah mesin.

Di setiap ujung lengan drone terpasang baling-baling dua bilah. Lengan yang bisa dicopotpasang itu membuat penyimpanan drone lebih efisien. Bongkar-pasang juga memudahkan perawatan, kata Rizqy, Selasa, 2 April lalu. Drone tersebut mengantarkan tim menjuarai Singapore Amazing Flying Machine Competition kategori E (Unconventional) untuk umum di Institute of Technical Education College Central, Singapura, pada 1423 Maret lalu. Acara ini merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan DSO National Laboratories dan Science Center Singapore dengan dukungan Kementerian Pertahanan Singapura.

Biasanya tubuh drone sebagai wadah komponen mesin dan baterai dibuat menyatu dengan setiap lengan wahana yang menjadi tempat pemasangan baling-baling. Desain ini memudahkan pemasangan jaringan kabel yang mengalirkan listrik dari baterai ke motor baling-baling. Konsep modular drone bisa memutus koneksi mesin dan baterai dengan lengan berbaling-baling. Agar koneksi bisa tersambung dan listrik mengalir lagi, para mahasiswa mengambil inspirasi dari bilah seng pada tempat baterai mobil mainan anak-anak. Bilah kecil seng yang diselipkan di sisi dalam kotak baterai itu sanggup mengalirkan daya untuk menggerakkan mobil.

Konsep ini mereka terapkan di ujung-ujung lengan drone. Agar sambungan lengan lebih erat menempel, mereka menambahkan magnet kecil di setiap tepi lengan penyambungan. Trik tersebut berhasil membuat drone terbang. Drone itu juga bisa dipasangi roda kecil sehingga dapat meluncur layaknya mobil. Selain itu, lampu LED bisa ditambahkan sebagai indikator bahaya di sekitarnya.

Dalam lomba, drone mahasiswa ITB tersebut menjalankan misi membawa kotak obat ke pasien melewati rintangan rak empat tingkat. Setelah pendaratan, lengan baling-baling dilepas dan drone dikendalikan sebagai mobil pengantar obat sambil membersihkan rintangan di sekitarnya. Dalam misi lain, drone membawa flapping wing alias UAV mini untuk memantau satu lokasi.

Sementara drone terbang, UAV yang dilengkapi kamera yang tersambung dengan monitor di darat dilepas untuk memantau kawasan yang sulit dijangkau wahana nirawak itu. Menurut Damardayu, drone buatan timnya masih perlu dikembangkan. Magnet pada sambungan lengan baling-baling perlu diganti dengan sistem pengunci lain karena magnet ternyata mengganggu pengendali kecepatan dan membuat putaran baling-baling tidak sama. Sisi desain dan material drone juga perlu diperbaiki. Material akrilik yang mereka gunakan saat ini masih lebih berat dibanding panel serat karbon. Bahan itu lebih ringan dan kuat, tutur Damardayu.

Drone yang mereka rancang sumber pendanaan berasal dari patungan satu tim, sehingga mereka bisa lebih fokus mengerjakan projek ini dan tidak bingung cara membebaskan diri dari hutang apabila sumber pendanaanya berasal dari pinjaman.