Perayaan Hari Raya Idulfitri Lebih Bagus di Rumah Saja

Diagram pertumbuhan sesuatu positif covid-19 belum pula berkurang. Kemarin, terlebih terdapat penambahan 1327 sesuatu dalam sehari yang merupakan penambahan harian tertinggi. Pada tatkala bersamaan, keramaian justru marak di bermacam rupa wilayah Tanah Air belakangan ini.

Kekecewaan di kalangan para tenaga kesehatan yang bertugas menangani pasien covid-19 juga meruak. Cerminan atas kekecewaan itu secara spontan tersurat di sosial media dengan tagar #Indonesiaterserah.

dr Emilia Nissa Khairani dari RSUP Dr M. Djamil Padang, Sumatra Barat, mengungkapkan hadirnya tagar itu merupakan sosok keputusasaan tenaga kesehatan atas maraknya kerumunan di tatkala pandemi belum teratasi. Doi memaparkan tagar tersebut muncul tatkala beredar foto-foto penumpang yang berdesak-desakan di Bandara Soekarno-Hatta beberapa waktu lalu.

Setelah pengorbanan tenaga kesehatan selagi ini, sekonyong-konyong seluruhnya laksana sia-sia lantaran akumulasi kejadian dan kebijakan yang belakangan ini terjadi. Ini dirasakan enggak hanya kami para tenaga kesehatan, pula semua instansi di lapangan dari ada wabah.

Doi merasa miris tatkala menjelang Hari Lebaran melihat orang masih beramai-ramai membeli kaos di mal. Dokter dan perawat bekerja dengan beban makin berat, pasien makin enggak sedikit, dan personel rumah lara makin sedikit.

Bagai tersebut juga, Emilia meyakini tenaga kesehatan tidak ada yang menyerah. Tapi, ia meminta warga tetap di rumah tatkala Hari Lebaran.

Hari Hendarto, dekan Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengimbau masyarakat kepada tetap berada di rumah selagi Hari Raya Lebaran. Hal itu hendak mencegah penyebaran covid-19 yang terus menanjak beberapa hari ini.

Mudik di tengah pandemi bisa memperbesar risiko penularan. Silaturahim dengan orangtua dan sanak saudara memang ekslusif. Tetapi jangan sampai justru dengan mudik kami malah membawa dan menularkan virus ke klan tercinta di kampung halaman.

Dokter spesialis penyakit dalam itu berkata, kalau masyarakat mampu menerapkan sesuatu itu, memiliki arti turut membantu meringankan pekerjaan tenaga kesehatan yang selagi ini telah berjuang melawan covid-19.

Hargai para tenaga medis. Masyarakat kudu menyadari jikalau upaya penghentian covid-19 kudu berbasis komunitas. Jadi, diharapkan peran dan pekerjaan sama masyarakat bersama tenaga medis kepada memutuskan rantai penularan covid-19.

Nugroho Harbani, Ketua Ikatan Dokter Indonesia cabang Banyumas, juga meminta masyarakat lebih disiplin lantaran proses pengobatan bagi pasien covid-19 cukup lama dan menelan biaya besar. Jikalau membayar seorang diri dan tidak ada bantuan pemerintah, seorang pasien dapat menghabiskan 30 juta – 50 juta rupiah.

Jangan Jadi Orang Yang Egois

Orang yang pernah diisolasi akibat positif covid-19 di RSUD Sungai Lilin Sumsel juga mengungkapkan pahitnya jadi pasien korona. Dua kali dites swab rasanya sakit. Bayangin saja substansi asing masuk dari hidung sampai ke tenggorokan. Susah diungkapkan kalau tidak merasakan seorang diri. Jadi, jangan deh tes swab, lebih baik mencegah daripada mesti tes swab.

Doi berniat masyarakat dapat menjaga diri dan mematuhi anjuran pemerintah kepada tidak keluar rumah. Jangan egoistis. Enggak usah keluar rumah kepada silaturahim kemana-mana tatkala Hari Lebaran. Untuk mewakili silaturahmi, kamu bisa kirim parcel lebaran saja. Pesan secara online. Jadi tidak perlu pergi jauh dari rumah.

Seorang lainnya yang pula mantan pasien korona di RSPAD Gatot Soebroto, mengungkapkan pengalamannya. Vitalitas doi drop dan semasih 3 jam menggunakan bantuan oksigen. Apalagi, saturasi pernapasannya sempat pula turun. Beruntung, setelah itu situasi doi terus membaik dan dokter juga mengisolasinya di rumah. Doi juga berpesan meskipun jangan sampai terinfeksi covid-19.

Karena itu, jangan tidak sedikit keluar rumah malahan dulu. Jikalau sakit, periode penyembuhannya bikin frustrasi.